Sunday, October 9, 2016

Stand Up Comedy, Jauh dari Sekedar Bisa Melucu

      9 Comments   
Seorang teman berkata, "lu harus ajarin gue stand up." Seringkali dalam satu diskusi, dimana lawan bicara banyak bertanya, justru kita semakin memiliki pandangan yang luas. Menurut saya, itu karna ketika dia bertanya, otak kita dipaksa untuk membangkitkan semua memori, tentang hal yang menjadi pembahasan. Saya senang, bagaimana detail-detail kecil bisa terangkat, akibat rangsangan satu pembicaraan. Ceritanya begini, sepulang bermain bola, bersama kabigol fc, dimana isinya banyak comic dan selebritas dari berbagai kalangan, entah social media maupun media tv, saya mengajak seorang teman bernama jempoy. Dan ia kagum dengan pergaulan kami. Bagaimana kami saling bercanda, bercerita, bermain bola. Semua jauh dari yang ia lihat di media. Jempoy langsung memiliki keinginan untuk masuk juga ke lingkungan itu, saya tahu betul bagaimana orang yang bertemu dengan lingkungan baru, yang jauh lebih seru dari lingkungan dia sebelumnya. Tadinya dia kerja apartement, jadi ob. Dari jam 8-5. Setiap hari, kecuali kamis. Sampai di kantor, absen, bersih-bersih, satu jam cukup, kemudian bengong sampai jam makan siang. Bersih-bersih lagi, bengong lagi sampai jam pulang. Sudah empat tahun. Dan keputusannya untuk belajar standup, adalah tanpa pertimbangan, melainkan hanya panggilan. Disini saya melihat dua kemungkinan, bisa berhasil, bisa gagal. Namun saya tidak ingin mematahkan semangat seseorang, sayapun tahu bagaimana rasanya tidak dipercaya, kemudian saya bertanya, "Buku apaan yang sering lu baca?" "Kok stand up ke buku?" "Ya gimanapun, stand up itu basicnya nulis, dan orang gak akan bisa nulis bagus kalo dia gak banyak baca." "Umm, ya lu tau gue gimana sama buku." "Oke, mulai sekarang ubah. Lu udah tau gimana gue sama buku, dan gimana kehidupan gue jadinya." "Mulai darimana?" "Dikamar gue ada ratusan buku, pilih aja yang lu mau. Baca dirumah. Targetin mau berapa buku yang lu baca sebulan. Gini ya, gue tau, ada beberapa jenis orang, ada yang sukanya membaca, mendengar dan melihat. Tapi karna pilihan lu maunya stand up, elu gak cukup dengerin orang, gak akan cukup juga hanya dengan melihat. Elu harus baca. Harus banget." "Masa? Masalahnya gini, gue kemarin naik panggung rt, pas 17an, disana gue pake pakean bencong, dan berperan jadi reva (sinetron anak jalanan) itu sukses berat. Gue berdua dipanggung, gue bikin mc satu lagi gak bisa ngomong. Dari masuk orang udah ketawa, ampe abis gue bikin orang yang nonton, mau kenal, gak kenal, itu ketawa semua. Udahannya gue disalamin banyak orang, terus pas ada panggung rw, gue lagi yang disuruh naik." Gue tersenyum mendengar cerita dia, bagaimana antusiasnya dia menceritakan pengalaman menaklukan panggung. Memang sangat seru. Gue pernah melakukan itu. Terakhir sebagai penutup, "Elu adalah saksi gimana gue dipanggung pertama openmic, elu juga tau gimana gak lucunya gue waktu itu. Elu tau semua cerita gue dari smp sampe sekarang, elu juga tau gue ngajak elu stand up dari empat tahun lalu, elu sendiri yang milih nyerah waktu pertama kali nyoba openmic, karna gak diperhatiin orang. Gimanapun, orang gak bisa dibilang gagal kalo belum nyerah. Elu gagal waktu itu. Dari kegagalan lu, selama empat tahun bengong di apartemen, elu pergunakan itu sebagai introspeksi, elu pergunakan kesuksesan gue sebagai motivasi. Yang lu ceritain ke gue, itu adalah mental panggung, bagaimana elu bersikap dipanggung. gue orang yang paling tau bahwa elu lucu, lebih lucu dari gue kalo ditongkrongan. Tapi stand up itu sendiri jauh dari sekadar lucu." "Gue kerumah ya, ambil buku. Ajarin gue." "Ayok, belajar bareng." :))

Copyright © Fico Belajar Cool is designed by Fahri Prahira