Sunday, February 15, 2015

Cerita sebuah permen.

      31 Comments   
Aku ada disini. Diperjalan ke rumah kamu.
Kamu terlalu lama menghilang.
Ya, cuma beberapa hari sih, aku takut kamu sakit.
Tapi aku mikir lagi, sekarang mah orang sakit aja tetep ngepost.
Mungkin kamu sehat, hanya ada luka yang aku gak bisa lihat.

Aku disini sekarang, di depan rumah kamu. Sepi. Aku lagi bimbang, jadi manggil apa ngga. Kamu tau ngga? Butuh keberanian lebih untuk datang ke tempat cewek yang responnya ga seberapa. Ada banyak hal yang membuat takut, terutama akan penolakan. Cowok selalu takut merasa ditolak. Tapi bodo lah, aku sendiri pernah bilang, jatuh cinta itu butuh nyali.

Aku lagi kebayang-bayang, kamu nanya, ngapain aku kerumah kamu, aku jelasin, aku mau tau kabar kamu. Aku mau nanya kenapa kamu menghilang, aku mau cerita tentang hari-hari aku dan aku mau kasih kamu permen.

Yaudah, aku beraniin diri melangkah, manggil nama kamu di depan pintu, ngucap salam biar ada yang ngerasain kehadiran aku.
Lalu seseorang keluar, dan melempar senyum, yang mana aku tau dengan pasti itu bukan kamu.
Mama kamu ngasih tau aku, barusan kamu pergi, sama cowok katanya. Aku tanyain kabar kamu ke mama kamu, katanya kamu sehat-sehat aja. Setidaknya aku lega, karna udah tau kabar kamu. Perkara kamu lagi jalan sama cowok, itu hal yang lain, karna bukan itu tujuan aku dateng.

Aku pulang dengan sedikit sesak di hati, sampai rumah, aku membuat secangkir teh, lalu menyesapnya dengan pelan. Masih terlalu panas. Lalu aku sadar, seperti halnya teh, kamu masih terlalu panas, jika aku memaksa minum, hanya akan membuat lidahku perih, sebentar, akan kutunggu hangatmu.
Satu pelajaran lagi, jatuh cinta juga butuh waktu.

Oiya, aku masih punya permen yang harusnya kuberikan buat kamu, karna kamunya ga ada, yaudah permennya buat aku aja, ternyata rasanya tetap manis, meskipun suasana hati sedang pahit.


Thursday, February 12, 2015

Right people on wrong movie

      11 Comments   
Hidup ini indah.
Begitu katamu saat kau bersamanya.

Lalu masalah datang, mencoba mengguncang hubungan, namun aku tahu dengan pasti, itu tidak memisahkan kalian. Lalu kau bilang, karna hidup ini adil, hidup mempersatukan apa-apa yang saling mencintai.

Kemudian waktu mulai membunuh cinta, dan kamu berjuang sendiri didalamnya, kamu kalah. Kamu pasti kalah. Ia memilih pergi dan kau tetap memilih cinta. Baginya kau adalah masa lalu, bagimu ia masih segalanya. Lalu kau berteriak mempertanyakan, mengapa hidup ini tidak adil?!

Aku yang diluar kalian, melihat ini dengan jelas, seperti menonton sebuah film, ingin kubisikan pada pemeran wanitanya, kamu bukan pemeran utama difilm ini, jadilah realistis.

Terkadang artis yang baik memang berperan difilm yang salah.

Saturday, February 7, 2015

Perkara ya atau tidak

      11 Comments   
Aku ingin merengkuh kamu sayang, memeluk cinta hangatmu, mencium kasih putihmu, berikan aku semua itu.

Anggap aku egois, kalo dengan itu kau mengizinkanku untuk posesif. Matipun aku takkan mau melepasmu.

Aku sadar aku bukan yang paling ganteng, paling tajir, paling baik, paling perhatian, bahkan mungkin aku bukan yang paling sayang sama kamu, tapi aku berani jamin 1 hal. Aku yang paling menginginkanmu.

Aku ga punya banyak hal untuk berharap padamu, tapi aku punya nyali untuk jatuh cinta. Tangkaplah cinta ini, maka aku akan jadi yang paling berani.

Kamu, aku udah ga punya waktu untuk hanya berdiam melihat kamu sendiri dan hanya memandang dari sini. Akal sehat sudah tidak mampu membendung keberanian cinta ini, aku akan menghampiri dudukmu, menggenggam tanganmu, dan mengatakan aku cinta padamu.

Jika kau berkata ya, maka usai, apalagi berkata tidak, semua akan jadi lebih usai. Ini bukan perkara ya atau tidak. Perasaan tidak secetek itu.

Terima cinta ini lalu kau kubahagiakan. Bunuh cinta ini maka akan kutumbuhkan 1000 yang baru. Aku bukan pecundang sekarang, aku pejuang.

Monday, February 2, 2015

Buat renungan bersama

      13 Comments   
Renungan pagi nih.

Misi, mau numpang curhat,
Jadi gini, umm.. Gimana ya bilangnya? Gue jomblo. Tapi bukan yang pedih-pedih banget gitu, serius. Ya, cukup pedihlah, tapi bukan yang level paling tinggi pedihnya.

Alasan gue jomblo adalah, karna ego! Bukan ga ada yang mau, beneran. Percaya ya.

Gue itu pemilih banget, ya gue akuin itu kesalahan gue, udah jelek, pemilih. Mmm, cukup fatal ya kalo ditelaah.

Tapi masalahnya ego gue tinggi banget, gue ga mau pacaran sama yang sekedar, "oke lu ga jelek, bisa lah kita pacaran." Gue ga mau.

Kenapa? Bukannya harusnya bersyukur ada yang mau?

Harusnya sih iya, cuma gue terlalu sombong untuk mau membuka hati pada yang biasa aja itu.

Kok bisa sombong? Umm, gimana ya ngomongnya, gue mau lebih terbuka aja nih, siapa tau jalan keluarnya ketemu. Perkara nanti kalian mau nilai gue gimana, belakangan. Gue merasa pantas dapat yang spesial karna gue pekerja keras. Gue stand up jauh-jauh keluar kota, gue shooting gila-gilaan, pagi ketemu pagi, gue bikin materi muter otak setengah mati, gue kejar popularitas, gue jarang nongkrong sama temen-temen gue bela-belain kerjaan, nah, setelah apa yang udah berhasil gue kumpulin, jadi ada sedikit kebanggaan di hati gue. Dan gue jadi mikir, gue harus dapet yang special banget, yang hati gue sreg banget, yang gue mau ngabisin waktu gue sama dia lama-lama, karna gue mau yang jadi pacar terakhir gue adalah orang yang nikah sama gue nantinya.

Tapi jadi ga dapet-dapet cewek kayak gitu, pas sekalinya ada, ga mau sama gue. Tai ga? Tai sih kata gue mah.

Yaudah, jadi gimana nih guenya? Ya kalian juga sekalian bisa direnungin tuh, gimana kalo kalian nanti sukses, masih rela ngebagi hasilnya sama yang sekarang digandeng? Nanti pas kalian udah bisa ngumpulin uang untuk beli sesuatu kayak rumah, mobil, motor, barang-barang masa depan deh, akan ada rasa "gue susah payah ngumpulin ini." Percaya sama gue, gatau itu sombong atau apa, ya mungkin gue udah jadi sombong, mungkin kalian terlalu lama ga negur gue, yang jelas sekarang gue butuh masukan. Comment ya, atau kalo mau lebih private email juga gapapa, fico.fachriza@gmail.com
I love you! Salam hormat! 
*kecup kening satu-satu*

Copyright © Fico Belajar Cool is designed by Fahri Prahira