Tuesday, December 30, 2014

Because we must fight back!

      18 Comments   
Aku terus berjalan dengan senyum merekah, aku tidak tahu apa yang akan menghadang di depan, yang aku tahu, saat aku menoleh ke belakang, januari sudah jauh tertinggal.

Ah.. 2014, tahun yang penuh kebahagiaan, aku sampai lupa kapan air mata ku menitik terakhir kali, oiya, saat itu bulan september, aku berada di puncak merbabu dengan sunset tersaji di depan mata. Dan pasti itu bukan tangis kesedihan, itu adalah tangis kepuasan, pujian akan indahnya alam.

2014, tahun terproduktifku sejauh aku hidup, 1 judul sinetron, 1 judul buku, 1 tournament futsal, 5 judul film, puluhan kota stand up, puluhan judul post di blog, wrong way tour, dan banyak lagi, aku menjadi pemikir dan pekerja keras di tahun ini.

Aku bangga akan diriku sendiri, dan tahukah kamu betapa senangnya? Tak terhitung. Kamu pikir aku berlebihan? Cobalah menjadi aku, dan rasakan betapa pahitnya perasaan menjadi orang yang tersisih, aku adalah orang yang disisihkan, dianggap nakal oleh semua orang dewasa, dianggap merusak nama baik orang tua, bukan hanya itu, bahkan aku punya yang lebih sakit, aku tidak dianggap.

Sekarang dengan bangkitnya aku, aku bisa berkata dengan lantang pada dunia, pada semua orang yang memandang remeh, pada semua yang menganggapku kecil, "aku punya cara yang berbeda".

Kenapa caraku harus sama dengan cara mereka? Sementara aku merasa lebih baik di jalan ini.

Jika ditanya, apakah tulisan ini mengandung dendam? Apakah tulisan ini berapi-api? Maka jawabannya adalah, ya. Kenapa?

Karna tulisan ini ada berkat perjuangan panjang, banyak keringat dan tusukan dari belakang. Jika saja di masa sulitku aku memilih untuk menyerah, maka kalian tidak akan membaca ini, namun sekali lagi, aku punya pilihan lain, saat aku seharusnya menyerah, aku memilih untuk tidak.

Dan tidak menyerah adalah jalan terbaik yang aku punya.

2015.

Entahlah. Mungkin baik, mungkin buruk. Karna keadaan tidak selamanya baik, dan tidak selalu buruk. Yang aku pahami adalah, disaat susah, pilihannya bukanlah menyerah, kenapa? Because we must fight back!!

Thursday, December 18, 2014

Cukupkan kesendirian, aku lelah.

      29 Comments   
Entah sisi mana dalam diri ini yang tampak oleh orang sekitar, yang aku tahu aku kesepian.

Ini menyiksaku, aku seperti sang munafik, menghibur dengan canda tawa, yang mana sebenarnya aku lebih membutuhkannya daripada mereka.

Aku berdiri di satu tempat melihat keramaian, memandang sekitar, bising sekali, melihat pria datang dengan dua gelas minuman ditangan, menghampiri wanita dengan tatapan, "mari kita saling kenal" pria memberikan segelas minumannya kepada si wanita yang tidak nampak haus, namun tetap menerima gelas pemberian dari si pria, mereka berdua tersenyum. Berhasil. Aku? Aku ditengah kebisingan terlarut dalam pandangan nyata ku sendiri, aku melamun, aku terisak, aku menangis, aku diam, bukankah tangisan tanpa air mata adalah sakit?

Kekosongan hati bukan perkara sederhana, menemukan pengisinya juga hal berbeda dan sudah tentu lebih sulit. Lalu kemudian aku bertanya? Apa yang harus kulakukan untuk membantu hati sekaratku? Sayang sekali jawabannya tidaklah mutlak, jawaban itu memicu lagi pertanyaan lain, "sampai kapan?" Karna aku hanya bisa menjawab, "tunggu."

Mengapa aku tidak bisa membawa 2 gelas minuman dan menghampiri seorang wanita? Bukankah aku berani? Atau aku terlalu takut? Tapi takut untuk apa? Apakah aku takut untuk bahagia? Tidak, bukan itu masalahnya. Aku adalah banyak sisi kehidupan, aku bukan hidup untuk diriku sendiri, aku hidup untuk orang tua, adik, kakak, teman, rekan kerja dan mungkin aku juga hidup untuk kesepian.

Lalu setelah semua yang kulakukan untuk orang lain, adakah orang lain yang akan menyelamatkanku? Menemaniku? Mendengar keluhku, kesahku, dan memeluk untuk menghangatkan dinginnya hatiku? Datanglah, temani dan sayang aku.

Untuk tulang rusukku, dari jodohmu. I love you.

Saturday, December 6, 2014

Si pura-pura

      11 Comments   
Berpura-pura itu sakit. Pura-pura ketawa, pura-pura seneng, pura-pura senyum, pura-pura nyaman, pura-pura berdamai dengan keadaan.

Karna berpura-pura adalah bentuk kebohongan untuk menutupi sesuatu yang miris.

Contoh kecil, pura-pura ketawa, kenapa kita pura-pura ketawa? Karna kita ngga ingin ketawa, dan kita menghargai si pelempar jokes, yang mana jokes itu ngga lucu. Kita ngga tega diemin dia gitu aja, makanya kita pura-pura ketawa. Karna kita tau, ngga lucu itu miris.

Pura-pura seneng, menurut gue pura-pura seneng adalah bentuk penolakan, karna kita ga tega untuk menolak suatu pemberian, makanya kita terima dan berpura-pura seneng sama hal itu, yang mana itu kita lakukan karna kita tau, ditolak itu adalah hal yang miris.

Pura-pura senyum adalah tindakan pahit dari sebuah hal pahit, yang mana kita ngga bisa terima hal itu, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah. Kita semua tahu itu, kita tahu bahwa ketidak berdayaan itu miris.

Pura-pura nyaman adalah kebohongan paling besar, karna kenyamanan itu murni, tidak bisa dibuat-buat. Dimana kalo kita merasa nyaman, itu karna benar nyaman. Dan ketika kita tidak merasa nyaman, itu adalah karna hati kita berkata begitu. Orang yang pura-pura nyaman adalah orang yang tidak bisa menemukan kenyamanan, dan itu miris.

Pura-pura berdamai dengan keadaan, titik terbingung manusia yang mana di titik ini seseorang sudah tidak bisa mendengar lagi kata hatinya, karna termakan sugesti untuk berdamai. Ia sudah tidak bebas berekspresi, tidak bebas marah, tidak mampu untuk mendendam, sementara hatinya luka. Manusia itu boleh marah, manusia itu boleh menangis, manusia itu boleh bersedih, karna hidup tidak melulu tentang tertawa. Dan pura-pura berdamai dengan keadaan itu siksaan karna kita tidak bisa menjadi apa kita sebenarnya, kita hanya menjadi bayang-bayang kedamaian, bukan damai yang hakiki.
Dan gue adalah "si pura-pura". Itu miris.

Copyright © Fico Belajar Cool is designed by Fahri Prahira